Bukan Cuma Jadi Penerjemah Lulusan Sastra Jepang



Lulusan Sastra Jepang dapat bekerja di berbagai bidang, tidak hanya menjadi guru dan penerjemah.(Foto: Japan Guide)  
RTC Internasional- Mungkin masih banyak kawula muda yang meragukan prospek karier lulusan Sastra Jepang. Penerjemah maupun guru seakan-akan menjadi rujukan pekerjaan bagi para mahasiswa Sastra Jepang selepas lulus kuliah.

Padahal, menurut Head of Japanese Department Bina Nusantara (Binus) University Elisa Carolina Marion, peluang kerja lulusan Sastra Jepang sangat luas. Apalagi melihat minat Jepang yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi.

"Investasi Jepang di Indonesia semakin menggila. Tahun kemarin tamu banyak sekali yang datang ke sini untuk kerjasama. Indonesia pangsa pasar yang menjanjikan dari bidang apa pun. Sehingga masalah lapangan kerja tidak perlu khawatir," tutur Elisa di Kampus Binus Kijang, Kemanggisan, Jakarta Barat, Kamis (13/3/2014).

Dia menjelaskan, lahan pekerjaan lulusan Sastra Jepang tidak terbatas. Mereka bisa menjadi penerjemah, guru, atau bekerja di perusahaan Jepang. Dia menilai, menjamurnya perusahaan Jepang di Indonesia menjadi kesempatan bagi jebolan Sastra Jepang untuk menjadi jembatan antara Jepang dan Indonesia dalam berkomunikasi.

Untuk itu, kata Elisa, para mahasiswa program studi Sastra Jepang juga dibekali dengan soft skills untuk melengkapi materi ajar yang diberikan selama perkuliahan. Salah satu bentuk soft skills yang ditanamkan oleh para dosen ialah etos kerja.

"Untuk hard skills kami bekali dari kurikulum yang mengacu pada kebutuhan industri karena setiap tahun kami melakukan focus group discussion (FGD) dengan industri. Kalau soft skills kami kenalkan dengan etos kerja orang Jepang. Misalnya belajar mengakui kesalahan bukannya mencari kambing hitam serta bagaimana mencintai pekerjaan bukan melihat dari nominal gajinya saja," katanya. (rfa)