Perlu Taktik dan Strategi Hadapi Tes TOEFL



RTC internasional ;
Antara persiapan tes dan tes TOEFL yang sesungguhnya harus ditampilkan dalam bentuk kurang lebih sama. Sampai akhirnya siswa mengerti, bahwa antara persiapan tes dan tes itu sendiri seperti tidak ada bedanya.

Menghadapi tes TOEFL (Test of English as a Foreign Language) tidak semata hanya belajar listening, writing, speaking, grammar, dan sebagainya secara berlebihan. Taktik dan strategi menjawab semua pertanyaan dalam tes itu juga sangat dibutuhkan untuk memperoleh skor memuaskan.
"Untuk itu harus dipersiapkan jauh-jauh hari, khususnya bagi pelajar atau mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri," ujar Presiden Direktur Edupac Hengki Mardjuki saat ditemui Kompas.com di lembaga kursus RTC internasional,Universitas Indonesia Depok,Kamis (11/2/2010).
Dengan waktu dan perencanaan studi yang teratur menghadapi tes ini, ujar Hengki, persiapan tes (test preparation) yang dibutuhkan itu bisa tercapai dengan baik tanpa harus terburu-buru. Pun, kata dia, kondisi tes persiapan itu harus dibuat benar-benar sama persis dengan tes yang sesungguhnya.
"Online" iBT
Bentuk persiapan tes dan tes TOEFL yang sesungguhnya harus ditampilkan dalam bentuk lebih kurang sama. Sampai akhirnya, Hengki mengatakan, siswa mengerti bahwa antara persiapan tes dan tes itu sendiri seperti tidak ada bedanya.
"Untuk itu, kami di sini menjadi satu-satunya yang memberikan praktik tes persiapan yang langsung menggunakan sistem online standar iBT," kata Hengki.
Tak ubahnya dengan PBT (Computer Based Test) TOEFL, iBT (internet Based Test) juga menggunakan media komputer. Hanya saja, sistem tes pada iBT memakai saluran internet. "Sehingga peserta tes bisa langsung berlatih secara online dan menjawab soal-soal tes pun dengan cara online seperti kondisi sesungguhnya yang akan dihadapi, sehingga akan terbiasa," ujar Hengki.
Hengki menuturkan, iBT TOEFL atau dikenal dengan next generation TOEFL merupakan bentuk tes terbaru yang dikeluarkan oleh Educational Testing Service (ETS) yang bermarkas di New Jersey, Amerika Serikat (AS).
"Inti materinya sama, karena memang tes yang akan diujikan adalah reading, listening, speaking serta writing. Di sini pemakaian structure tidak dihilangkan, melainkan dilebur dalam empat kesatuan materi tes yang akan diujikan itu," ujarnya.
Sistem ini, lanjut Hengki, diperkenalkan sejak 2005 atau seiring dengan kehadiran Direct English di Indonesia sebagai sebuah standar tes internasional.